24 Maret 2009
Pada artikel ini akan kami uraikan sejarah sistem operasi dari DOS, Mac, Windows, BSD, sampai Linux. Namun sebelum kita mengetahui sejarah sistem operasi alangkah baiknya kita mengenal dulu apa pengertian sistem oprasi dan apa sih manfaat atau kegunaannya pada computer kita.
Sistem Operasi adalah program terpenting dari program – program yang terdapat dalam sistem komputer. Pada Umumnya program hanya dieksekusi selama beberapa waktu saja (transien), tetapi sistem operasi berjalan terus menerus selama komputer masih aktif. Sistem Operasi dapat dianggap sebagai program kontrol yang bertugas untuk menjalankan program-program lain yang ada di dalam komputer. Dalam hal ini sistem operasi berada di tengah-tengah antara program/aplikasi dan perangkat keras, dan bertindak sebagai pembagi sumber daya, seperti siklus CPU, memori, ruang penyimpanan disk, dan alat-alat input/output (I/O).
Sistem Operasi juga harus dapat menangani bila terjadi konflik penggunaan sumber daya karena banyak aplikasi yang berjalan pada komputer. Sistem Operasi juga dapat dlihat sebagai sebuah lapisan abstrak (layer of abstraction) antara aplikasi dengan perangkat keras di mana aplikasi dijalankan. Sistem Operasi menyediakan perangkat lunak dengan interface yang berarsitektur netral ke perangkat keras melalui sekumpulan system call. System Call ini mewujudkan sebuah mesin yang tampak secara fisik.
Tuh pengertian sistem operasi, setelah kita mengetahui pentingnya sistem operasi di komputer kita sekarang pengin tahu ga sejarah sistem operasi? Ingatkan ada pepatah Jangan melupakan sejarah …!
Kalimat ini bukan hanya berlaku di dunia nyata, tetapi juga di dunia komputer, khususnya dunia sistem operasi. Mempelajari sejarah memang menarik, bahkan sekalipun itu hanya sejarah sistem operasi / operating system (OS) suatu komputer. Paling tidak dengan mempelajari sejarah sistem operasi komputer, wawasan kita bertambah luas dan tidak hanya berkutat pada satu sistem operasi saja.
Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Tukul (Tugas Kuliah) |
Permalink
Ditulis oleh Anjungan Anwar
2 Maret 2009
Malam makin larut, hujan yang turun sedari tadi sore tak kujung reda. Suasana kampung tak seperti biasanya, ramai. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan itu, mungkin karena malam itu malam jum’at lagipula hujan, kebanyakan warga desa memilih bertahan di rumah mereka masing-masing.
Jarum Jam telah menunjuk pukul 22.00 malam. Pak Karta masih duduk termenung sendiri di dipan bambu, di ruang yang sempit. Dalam ruanga itu terdapat sepasang kursi dan sebuah meja. Keadaannya tak begitu rapih. Ruang itu kira-kira hanya berukuran tiga kali tiga meter.
Segelas kopi pahit beserta sebatang rokok lintingan buatannya setia menemani pria paruh baya itu. Entah apa yang sedang ia fikirkan, sedari bahda Isa, yang dilakukannya hanya melamun sepertinya ada permasalahan yang sedang menyelubungi hatinya. Entah apa. Sepertinya ia lebih suka hanya menyimpannya sendiri. Baca entri selengkapnya »
1 Komentar |
Cerpen |
Permalink
Ditulis oleh Anjungan Anwar
2 Maret 2009
Aku duduk termenung. Sunyi. Segelas kopi yang kuseduh sendiri sudah berhenti mengepulkan asap. Malam ini dingin. Udaranya menusuk pori-poriku, lalu menyelinap melewati rongga kulit, membalut semua tulangku. Aku membeku.
Seharusnya aku sudah terlelap sedari tadi. Tapi entah kenapa ada yang selalu melintas di mataku tiap kupaksa untuk terpejam. Dia, dengan wajah seteduh telaga, yang sering menghalangiku terlelap mimpi di tiap malamku. Terkadang telingaku masih jelas mendengar suaranya yang halus dan tawanya yang begitu ringan. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Cerpen |
Permalink
Ditulis oleh Anjungan Anwar
2 Maret 2009
Di sebuah kamar yang sunyi senyap dengan khusyu Khasanah berdikir menyerukan Asma Ilahi, menengadahkan kedua tangannya menghadap kiblat. Mengenakan mekena putih panjang bermotif bunga. Tak terasa air matanya mengalir di antara batang hidungnya yang mancung dan trus mengalir saat ia semakin khusuk memanjatkan asma-asma Ilahi. Wajah khusyu itu tertunduk beralaskan sajadah berwarna merah yang tegelar membentang di hadapannya.
Khasanah tak henti-hentinya berdo’a, tak terasa malam berangsur pagi. Hari masih gelap gulita sang mentari belum beranjak dari tidur yang panjang bahkan suasana kampung masih sepi belum ada aktivitas dari para warganya. Sesaat kemudian ia tersentak, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras memecah kesunyian. Suara itu tak bukan berasal dari samping rumahnya. . Baca entri selengkapnya »
Leave a Comment » |
Cerpen |
Permalink
Ditulis oleh Anjungan Anwar
28 Februari 2009
Senandung cinta pertama mengalun dalam hidupku, kuncup-kuncup bunga seakan bermekaran dalam hati yang selalu diselimuti wewangian surgawi. Perasaan bak pelangi yang beraneka ragam warna sungguh terasa sempurna hidup ini.
Dialah Adelways sebut saja namanya demikian, dia adik kelasku saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. wajahnya elok rupawan dan sangat mempesona, bagiku dia tanpa cacat sedikitpun. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Cerita Cinta |
Permalink
Ditulis oleh Anjungan Anwar
27 Februari 2009
Malam dalam keheningan peraduan bintang dan rembulan, begitu sunyi. Angin berhembus lirih membisikan Sesuatu, mengusik ketenangan batinku. Kuambil sepeda kumbang warisan kakekku kemudian melesat menembus remang cahaya rembulan yang makin redup karena tertutup awan hitam yang semakin pekat.
Bayangan sahabatku kembali terniang dalam alam fikirku, ya Abu Iskah. Walau usia kami terpaut jauh namun persahabatan kami lebih dari persahabatan kebanyakan orang. Aku mengenalnya saat aku sedang menunggu angkot di pertigaan pasar tiga bulan yang lalu. Entah siapa yang mulai percakapan, kami mengobrol hingga kami merasa banyak kecocokan satu sama lain. Yang saya tahu dia adalah salah satu Preman yang terkenal kejam dan ditakuti oleh banyak pedagang di pasar itu. Anehnya aku sama sekali tidak merasa takut dan biasa saja menganggapnya. Ia mendapat julukan si Abah sebelum kami sepakat mengganti namanya dengan nama Abu Iskah. Ia sama sekali tidak marah bahkan sangat senang saat aku pilihkan nama itu untuknya. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Cerpen |
Permalink
Ditulis oleh Anjungan Anwar
24 Februari 2009
Oleh: Agus Riyanto
Tanggal 23 Januari yang lalu adalah hari di mana saya berjumpa dengan seorang penulis novel yang luar biasa prima. Sebenarnya pertemuan ini bukanlah direncana. Bermula dari informasi seorang kawan bahwa sore itu di toko buku Gramedia di kotaku akan ada jumpa penulis, dua orang sekaligus, dan salah satunya adalah penulis idola saya. Maka sore itu menjadi tidak biasanya, pada jam 15.00 WIB saya telah berkemas untuk cabut, padahal saya selalu pulang kerja setelah Ashar atau menjelang Maghrib.
Segera saya menghubungi seorang teman yang akan datang bersama. Kebetulan buku-buku karya penulis idola yang saya koleksi saya titipkan ke teman tersebut, dan menurut rencana akan saya mintakan tanda tangan kepada sang penulis idola tersebut. Terburu-buru sampai di Gramedia, ternyata acara sudah dimulai. Melihat penulis yang sedang berbicara di hadapan pengunjung bukanlah orang yang saya kira, saya pun segera bertanya kepada pramuniaga yang ada di situ. Memang benar, tokoh penulis yang saya maksud tidak ada jadwal sore itu ke Gramedia. Lantas, dari mana kawan saya tadi mendapat informasi yang salah ini; pikirku dalam hati. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Motivasi |
Permalink
Ditulis oleh Anjungan Anwar
5 Januari 2008
Setiap hari saya pergi ke pasar untuk belanja keperluan warung yang saya kelola, menggunakan sepeda ontel melewati jalan-jalan utama di kota Purwokerto. Dalam perjalanan itu saya selalu mengamati segala hal yang saya lihat ; kendaraan yang lalu lalang, keramaian pasar dan para pedagang yang sedang berjualan di pasar.
Ada hal yang menarik dari hasil pengamatan saya selama hampir 1 tahun menjadi seorang pedagang, saya menemukan sebuah toko yang selalu berubah-ubah jenis usaha dan barang komedity yang dijual. Pertama toko itu berjualan barang-barang dari bahan plastik (ember, baskom, perkakas dapur dll), kemudian berubah menjadi toko penjual air mineral berbagai merek pernah juga berubah menjadi toko penjual mainan anak-anak, yang telakhir toko itu di ubah pemiliknya menjadi warung makan. Baca entri selengkapnya »
& Komentar |
Motivasi |
Permalink
Ditulis oleh Anjungan Anwar