Malam dalam keheningan peraduan bintang dan rembulan, begitu sunyi. Angin berhembus lirih membisikan Sesuatu, mengusik ketenangan batinku. Kuambil sepeda kumbang warisan kakekku kemudian melesat menembus remang cahaya rembulan yang makin redup karena tertutup awan hitam yang semakin pekat.
Bayangan sahabatku kembali terniang dalam alam fikirku, ya Abu Iskah. Walau usia kami terpaut jauh namun persahabatan kami lebih dari persahabatan kebanyakan orang. Aku mengenalnya saat aku sedang menunggu angkot di pertigaan pasar tiga bulan yang lalu. Entah siapa yang mulai percakapan, kami mengobrol hingga kami merasa banyak kecocokan satu sama lain. Yang saya tahu dia adalah salah satu Preman yang terkenal kejam dan ditakuti oleh banyak pedagang di pasar itu. Anehnya aku sama sekali tidak merasa takut dan biasa saja menganggapnya. Ia mendapat julukan si Abah sebelum kami sepakat mengganti namanya dengan nama Abu Iskah. Ia sama sekali tidak marah bahkan sangat senang saat aku pilihkan nama itu untuknya.
Cerita sengkatnya begini, setelah pertemuan itu, hampir tiap kali kami bertemu di pertigaan itu, pastilah kami sempatkan untuk bercerita; mengenai kehidupan, politik hingga agama. Ia pun bercerita mengenai awal mula mengapa dan kapan ia menjadi Preman pasar hingga ditakuti banyak orang. Tiap kali ia mengakhiri cerita ia selalu berkata hal yang sama. “ Aku ingin berubah dan menjalani kehidupan yang sewajarnya seperti kebanyakan orang.” Ia juga pernah memintaku untuk mengajarinya sholat dan mengaji. Satu hal lagi tiap hari jum’at ia selalu menitipkan padaku sejumlah uang, katanya untuk dimasukan dalam kotak amal. Aku selalu mengajaknya untuk ikut berjama’ah sholat jum’at, namun ia hanya berkata “ saya masih kotor de belum pantas masuk masjid.”
***
Malam makin larut sinar rembulan yang sedari tadi menemani ayuna sepedaku berlahan makin redup lalu menghilang. Jarak rumah kami sekitar 2 km dan aku harus melewati sebuah perkebunan tebu yang dikenal sangat angker oleh para penduduk kampung. Jarum jam sudah menunjuk pukul 11.48 menit, saat aku memasuki kawasan perkebunan tebu itu. Ada sedikit perasaan yang tak karuan namun aku lebih percaya pada Tuhan, bahwa hal itu hanya tahayul belaka.Aku mamasuki perkampungan itu setelah melewati perkebunan itu, suasana kampung sangat sepi. Hanya beberapa orang nampak sedang duduk di Gardu Ronda. Mereka nampak besahabat, karena sebagian dari mereka memang sudah mengenalku. Aku hanya membunyikan kliningan sepedaku kemudian mereka membalasku dengan senyuman penuh keramahan.
Sesampai di rumah yang kutuju, keadaanya tak jauh berbeda dengan rumah yang lain. Sepi dan hampir semua lampu telah dimatikan. ada sebuah kamar yang nampak masih menyala. Aku turun dari sepedaku dan menyegerakan mengetuk pintu.
“Tok, .. tok, … Asslamu’alaikum.”
Hampir tiga kali aku mengulangi salamku namun tak ada balas dari dalam rumah.
”Mungkinkah Pak Abu sudah tidur.” Tanyaku dalam hati.
Aku menyulanginya sekali lagi.
“Assalamu’alaikum” kali ini agak lebih keras.
“Mungkin ia benar-benar sudah tidur”
karena lama tak ada jawaban, aku memutuskan untuk pulang, tiba-tiba saat aku berajak dari depan pintu terdengar lirih suara membalas salamku.
“Wangalikum Salam” dengan terbata-bata dan suara yang sangat berat.
“Masuk saja Mid pintunya tidak dikunci.”
Aku menjawab sekenanya “Iya Pak”
Ternyata beliau sudah tahu aku yang datang.
Aku menyegerakan masuk ke dalam rumah dan langsung bergegas menuju sebuah kamar yang sempit dan kumal. Dalam kamar itu terkulai lemas raga tua yang hampir tak berdaya. Mungkin ia kelaparan karena beberapa hari ini ia sakit sehingga ia tidak bisa bekerja.
Abu Ishak tinggal seorang diri setelah ditinggal oleh istri dan anak-anaknya. 4 tahun yang lalu. Lebih tepatnya meninggalkan anak dan istrinya saat ia tertangkap oleh Polisi karena terjerat kasus pembunuhan seorang pedagang sayuran. Selama 5 tahun ia mendekam dalam jeruji penjara, baru 4 bulan ini ia keluar karena mendapat remisi hukuman sebagai hadiah lebaran. Sepulangnya dari penjara ternyata semua keluarganya telah di boyong ke Sumatra oleh laki-laki yang diam-diam telah menikahi istrinya.
Inilah akhir dari keperkasaan seorang singa hingga saat ajal datang orang-orang yang dicintainya telah lebih dahulu pergi dari kehidupannya.
Aku masih terdiam tanpa kata, dalam hati aku hanya bisa mengiba atas derita sahabatku itu. Matanya seakan menuntunku untuk mendekat disampingnya. Berlahan aku mendekat namun masih terdiam.
“Kau bisa mengaji? Tolong bacakan surat Yassin untukku ”
Tetesan air matanya jatuh bercucuran di pipinya yang kriput. Aku hanya mengangguk tanda aku setuju dengan permintaannya, setelah itu aku meminta diri untuk mengambil air wudhu.
Setelah selesai membaca ayat yang terakhir aku kembali menatapnya, ia tersenyum dan kemudian memejamkan mata. Ku pegang tangan renta itu, terasa dingin dan nadinya pun tidak berdenyut lagi. Pak Abu Ishak telah menghembuskan nafas terakhirnya. Aku terdiam sejenak seraya berharap semoga beliau meniggal dalam keadaan beriman.
Anjungan Anwar
Purwokerto, 26 Februari 2009
Wow, cerpen yang bagus Mas…
Terus menulis, dan ditunggu lho novelnya…
Salam SDA!
Oleh: Agus Riyanto on 27 Februari 2009
at 4:10 PM
salam juga Man, tunggu aja gebragannya di tahun ini.
salam sukses dari hati
wasalam.
Oleh: Anjungan Anwar on 28 Februari 2009
at 5:28 PM
Ok, tetap semangat dalam berkarya…
Insya Allah, pucuk di cinta… duren tiba!
Eh, salah… maksudnya: pucuk di cinta, ulam tiba…
Oleh: Agus Riyanto on 28 Februari 2009
at 5:32 PM