Oleh: Anjungan Anwar | 28 Februari 2009

Kisah Cintaku … Ketika Adelways Pergi

Senandung cinta pertama mengalun dalam hidupku, kuncup-kuncup bunga seakan bermekaran dalam hati yang selalu diselimuti wewangian surgawi. Perasaan bak pelangi yang beraneka ragam warna sungguh terasa sempurna hidup ini.

Dialah Adelways sebut saja namanya demikian, dia adik kelasku saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. wajahnya elok rupawan dan sangat mempesona, bagiku dia tanpa cacat sedikitpun.

Hal-hal indah selalu mengisi buku harianku, berlembar-lembar puisi sengaja aku tuliskan untuknya namun tak ada satupun yang aku serahkan padanya. Entah mengapa aku merasa takut jika dia tahu perasaanku yang sebenarnya.

Hari demi hari kami lewati bersama; canda, tawa, suka dan duka kami lalui. Namun itu adalah persahabatan di matanya bukan cinta seperti yang aku harapkan. Ia sering curhat tentang hal-hal peribadinya padaku, tentang semua hal bahkan saat ada seseorang yang mengutarakan perasaan padanya, ia pun menceritakannya padaku, malah aku yang disuruhnya menuliskan surat balasan dan mengantarkannya.

Sebenarnya bukan satu dua kali hal itu terjadi tapi sering sekali aku merasa cemburu padanya, pernah ada seseorang lain yang menitipkan sekuntum bunga padaku, oleh seseorang itu aku diberi sejumlah uang. Aku marah besar pada seseorang itu namun aku tetap menyerahkan bunga itu tanpa mengakui bahwa yang mengirimkan bunga itu adalah aku. Dikesempatan yang lain saat aku pulang sekolah bersamanya ada seseorang pemuda lain yang mengancam padaku agar aku menjauhinya katanya dia mantan kekasihnya yang dulu. Hampir aku naik pitam dan terjadi baku hantam dengan pemuda itu namun ia mencegahku dan membenarkan bahwa dia memang mantan kekasihnya.

Mungkinkah aku hanya menjadi kuli cintanya, hanya bisa menemani tanpa memilikinya. Sunguh memilukan.”

Waktu terus berlalu akhirnya aku lulus dan harus hengkang dari sekolah tercinta, sekolah yang penuh kenangan bersama orang yang aku cintai. Tak ada acara perpisahan khusus di hari itu, ia hanya menyampaikan ucapan selamat dan do’a semoga aku diterima di sekolah seperti apa yang aku harapkan.

***

Kini jurang waktu memasung cintaku dalam tungku api kerinduan, sekarang bagiku sangat sulit untuk bertemu dengannya, hanya sesekali, itupun sangat terbatas waktunya. Di sekolahku yang baru, dalam bola mataku tak ada seseorang pun yang mampu menandingi keelokan rupanya, hatiku selalu kembali pada perasaanku yang dulu, saat bersamanya.

hari itu tiba, hari ulang tahun adalah momen yang terbaik mengutarakan cinta. Aku dan seorang temanku sengaja bertandang ke rumahnya, menaiki sepeda ontel bapakku menyusuri jalan kampung yang licin dan becek. Di rumahnya ternyata dia tidak sedang pergi, orang tuanya bilang ia sedang ke rumah neneknya dan aku disuruhnya menunggu untuk beberapa saat.

Perasaanku sama sekali tak enak, seperti maling jemuran yang ketahuan telah mencuri. Keringat bercucuran disana sini, bahkan baju yang telah rapi aku Setrika basah kuyup oleh keringat. Karena itu aku memutuskan untuk menitipkan hadiah itu pada orang tuanya.

Hari berikutnya aku sengaja menemuinya di Terminal angkot, ia berubah tak ramah seperti sebelum aku memberikan hadiah itu. Berkali-kali ia menghindar dariku dan tetap diam. Padahal pagi biasanya ia memintaku untuk menemaninya menunggu angkot karena harus berjubel dengan penumpang lain.

Tak ada penjelasan atas perubahan sikap yang terjadi padanya, bahkan ucapan terima kasih pun sepertinya belum aku dengar dari mulutnya. Hari makin terasa kalut, hampir tiap malam aku tidak bisa tidur, bayangan itu selalu membayangi fikiranku. Rasa bersalah yang amat membuat hidupku terasa tak bermakna. Empat tahun berlalu kisah itu hanya bisa aku pendam, seribu Tanya masih tertahan dalam benakku.

Mengapa ia jadi berubah?

Mengapa persahabatan itu hilang?

Dan apakah salah jika aku menyatakan cinta pada sahabatku?

Hujan turun membasahi bumi juga hatiku, karena surat itu aku kehilangan teman sejati, teman yang aku cintai.

Anjungan Anwar

Dalam renungan cinta

www://haluwabiru.wordpress.com./


Tanggapan

  1. Kisah yang menarik Mas Anwar…

    Mati satu tumbuh seribu satu mas, hehehe.
    Keep smile.:-)

  2. Weleh2, ini cerpen tho Mas…
    Kirain True Love Story, hehehe

  3. Bukan cerpen memang mas, tapi lebih persis cerita tentang cinta.

    salam


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.