Oleh: Anjungan Anwar | 2 Maret 2009

BINGKAI KOSONG

Aku duduk termenung. Sunyi. Segelas kopi yang kuseduh sendiri sudah berhenti mengepulkan asap. Malam ini dingin. Udaranya menusuk pori-poriku, lalu menyelinap melewati rongga kulit, membalut semua tulangku. Aku membeku.

Seharusnya aku sudah terlelap sedari tadi. Tapi entah kenapa ada yang selalu melintas di mataku tiap kupaksa untuk terpejam. Dia, dengan wajah seteduh telaga, yang sering menghalangiku terlelap mimpi di tiap malamku. Terkadang telingaku masih jelas mendengar suaranya yang halus dan tawanya yang begitu ringan.

Dia ada. Tapi hanya seperti ilusi bagiku saat ini. Tak bisa kusentuh, tak bisa kugapai. Mata batinku saja yang dapat melihat kehadirannya. Sedang mata kepalaku ini, hanya bisa memandangi sebuah benda. Benda kotak yang selalu aku rawat dan jaga dulu, namun kini kubiarkan tergeletak di samping meja komputer. Tak pernah lagi kusentuh.

* * *

Malam itu dia berkunjung. Tak sendiri, tapi dengan dua karibnya. Kunjungan yang tak biasanya. Wajah teduhnya juga terlihat seperti tak biasanya. Garang, hingga alisnya kentara bertaut.

“Adakah kesalahan pada diriku hingga seakan kau sangat membenciku?” tanyaku setelah mereka kupersilahkan duduk.

Ia diam. Menunduk

“Din, kami ke sini tidak lain untuk membantu menyelesaikan permasalahanmu dengan Intan,” kata temannya.

“Masalah apa?

Bukankah selama ini kita tidak ada masalah?” jawabku bingung.

“Bagimu mungkin tidak ada masalah, tapi bagi Intan, kalian punya masalah. Dan Intan ingin masalahnya selesai malam ini juga.”

Permasalahan? Permasalahan apa? Yang kutahu selama ini aku dan Intan bersahabat, kami senang membicarakan semua hal berdua…hingga Intan berlahan pergi dari duniaku.

Pergi begitu saja. Tanpa penjelasan, tanpa permasalahan. Lalu permasalahan apa yang dia ingin selesaikan sekarang?

Kemudian Intan bicara dan mengutarakan semua padaku. Ternyata ia tak mengikhlaskan jika aku masih menyimpan fotonya. Aku harus mengembalikan padanya atau membakarnya, agar aku tak perlu lagi memendam rasa cinta.

* * *

Kuberikan foto itu kepada pemiliknya. Terpaksa, karena aku tak sanggup membakarnya. Aku juga benar-benar tak mampu membuang semua tentang Intan. Jadi kubiarkan benda kotak itu berdebu.

Kosong, tanpa gambar apa-apa.


Tanggapan

  1. Wah, bisa dibikin buku Kumpulan Cerpen nich.:-)
    Saya tunggu karya yang lebih romantis lagi… lebih menyentuh gitu loh, hehehe…

  2. sesuatu akan berarti bila kita buat sesuatu itu berarti,


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.